Diskusi Budaya: Membaca Seni Tradisional Melalui Adnan PMTOH


SMAN Modal Bangsa Arun mengadakan diskusi budaya pada hari Jumat 18 Maret 2022. Acara yang berlangsung di lapangan basket sekolah menghadirkan dua narasumber, yaitu kandidat Doktor Institut Seni Indonesia Surakarta Rasyidin, S. Sn, M. Sn dan Direktur Institut Meurak Jeumpa Mansur Muhammad Alamsyah (Nyakman Lamjamee). Acara yang mengambil tema "Tetranite: Membaca Teater Tradisional Melalui Adnan PMTOH", menurut Alfonso O. Oesman, S. Pd selaku guru Seni Budaya, merupakan bagian dari pendalaman pelajaran Seni Budaya yang bertujuan mengenalkan kembali seni tradisional.

Kepala SMAN Modal Bangsa Arun Nurasmah, S. Pd, M.Pd dalam sambutannya mengapresiasi kegiatan yang telah dipersiapkan oleh siswa dan menegaskan pentingnya mengenali kesenian tradisional sebagai warisan budaya. "Kalau dulu ibu masih bisa menonton berbagai pertunjukan tradisional seperti Adnan PMTOH, sandiwara, tapi berbeda dengan zaman sekarang yang sudah sangat jarang,” ungkapnya. Lebih lanjut ia menambahkan, “Dan kalau melihat tema malam ini, Adnan PMTOH adalah (pelaku) seni bertutur yang di dalamnya terkandung petuah dan nasihat yang baik. Petuah ataupun nasihat adalah ciri kesenian tradisional Aceh yang disampaikan bisa untuk hablumminannas ataupun hablumminallah.”

Sebelum acara dimulai gerimis sempat turun sebentar, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat para siswa dan guru untuk tetap berhadir. Aroma basah setelah hujan dan wangi bandrek bercampur menemani penampilan seni yang dibawakan oleh siswa seperti tari ratoh jaroe, tari goel, nyanyi, baca puisi, dan saat nonton bareng.

Kegiatan diskusi malam itu dimoderatori oleh Gizkha Maulina Herman, siswi yang saat ini duduk di kelas XI. Mengawali diskusi, Nyakman Lamjamee menyampaikan pemaparannya tentang seni tradisional Biola ‘Mop Mop’ Aceh yang terancam hilang. Pada masa dulu, sebagaimana disampaikan Nyakman, ada 29 grup kesenian, tapi sekarang tinggal 2 dengan formasi yang sudah tidak lengkap dan usia pemainnya di atas 60 tahun.

Kesenian Biola Aceh ini dimainkan oleh tiga orang, satu sebagai syeh yang memerankan ayah mertua dan bermain biola, dua orang lagi memerankan linto dan dara baro. Persoalan yang diangkat adalah tentang kehidupan rumah tangga sehari-hari yang berupa nasihat dan sindiran, kemudian dikemas secara komedi. “Enaknya bentuk kesenian seperti ini adalah kita bisa mengedukasi masyarakat tanpa terkesan menggurui,” tutur pegiat budaya yang aktif berusaha merevitalisasi kesenian tradisional.


Lihat juga : Reportase Budaya SMAN Modal Bangsa Arun Tentang Biola 'Mop Mop' Aceh


Menurut Nyakman, beberapa hal yang menjadi penghambat sulitnya Biola Aceh berkembang adalah konflik berkepanjangan dan juga makin minimnya kepedulian pada seni sehingga susah menemukan regenerasi. Selain itu, susahnya mendapatkan ruang tampil juga memperparah nasib seni pertunjukan Aceh ini.

Setelah pemaparan narasumber pertama, kegiatan diskusi dilanjutkan dengan membahas Adnan PMTOH oleh Rasyidin. Diskusi kedua ini diawali dengan nonton bareng rekaman video agar siswa memiliki gambaran bentuk seni bertutur. Keahlian Adnan PMTOH dalam menuturkan cerita hikayat Aceh membuat hikayat yang biasa hanya diucapkan dengan lantunan musikalitas Aceh berubah fungsi menjadi sebuah hikayat dengan alur cerita yang hidup dan memiliki alur plot yang jelas. Keahlian dalam menghidupkan tokoh, laku, dan keahlian dalam berpantun serta diperkuat dengan kemahiran memainkan alat musik dan berimprovisasi menjadi andalan Adnan PMTOH.

Rasyidin dalam pemaparannya juga menyampaikan pernyataan John C Sagers, seorang Profesor Arkeolog berkebangsaan Amerika, yang memberi gelar Adnan PMTOH sebagai Troubadour Aceh di tahun 1968. Kata Troubadour itu sendiri berasal dari kata Trou"ba*dour`,yang diambil dari suku kata dalam bahasa Inggris, yang artinya “penyanyi keliling”. Disebut seperti itu karena keahlian Adnan PMTOH dalam mendendangkan hikayat sembari keliling dari pasar ke pasar, dari satu tempat ke tempat lainnya.

Zaman ini, lanjutnya, sudah sangat berbeda dengan saat Adnan PMTOH masih hidup. Pada masa itu bentuk hiburan tidak banyak, maka seni pertunjukan tradisional hidup dan sering dibanjiri penonton. Kemudian ia menambahkan, “Ritme sekarang lebih dinamis, ada banyak sekali hiburan di sekitar kita dan itu menggeser kesenian tradisional. Harus kita cari formulasi ataupun kemasan baru agar kesenian tradisional kembali mendapat tempat di masa serba digital. Karena pada dasarnya, benteng sebuah wilayah selain dikontrol oleh political will, elemen kebudayan perlu menjadi alat bantu untuk memperkuat aturan-aturan yang menaungi karakter dan kearifan budaya setempat.”

Salah satu pertanyaan yang menarik disampaikan oleh Gizkha,“Apakah penerapan Syariat Islam di Aceh bisa berjalan seiring dengan kebudayaannya?”

Rasyidin mengapresiasi pertanyaan tersebut. Menurutnya, apa yang disepakati dan dilarang ulama harus kita ikuti. “Jadi semisal ulama melarang menggunakan aksesori tertentu, ya kebudayaan harus bisa beradaptasi. Selama ada keingingan dari setiap kita untuk mencari titik temu, maka persoalan-persoalan budaya bisa diselesaikan tanpa harus ada kelompok ataupun bentuk seni yang dirugikan,” pungkasnya.

Setelah acara selesai dan sebelum kembali ke asrama, setiap siswa bergotong-royong membersihkan sampah dan mengembalikan perlengkapan yang digunakan ke tempatnya masing-masing sehingga lapangan sekolah menjadi rapi seperti sedia kala.


Dimuat juga di:

https://acehsiana.com/2022/03/19/sman-modal-bangsa-arun-gelar-diskusi-budaya-membaca-seni-teater-tradisional-melalui-adnan-pmtoh/

https://marjinal.id/pesan-moral-adalah-ciri-kesenian-tradisional-aceh-hasil-diskusi-budaya-di-sman-modal-bangsa-arun


About The Author

Comments