Oleh: Teuku Daniel Arfan (X 2), Marsya Khairunnisa (X 4), Hamzah Arfah (X 5)
Fajar menyongsong, udara dingin waktu subuh, jalanan setapak, dan bunyi klakson di pagi hari. Nyaris setiap pagi setelah bangun lebih awal, ia mengendarai sepeda motornya, berangkat untuk membangunkan siswa yang masih diayun mimpi.
Wajar saja kalau dirinya kurang disukai, siapa yang rela dipisahkan dari lelap yang nikmat. Tetapi di sela dingin pagi dan stir sepeda motornya, tersimpan banyak cerita dan juga senyuman yang tulus bagi para siswa.
Namanya adalah Saiful Ammarullah. Semua orang di asrama memanggilnya Ust Ammar. Lahir di Gedong, Samudra Pasai pada tanggal 22-03-1982. Saat ini Ust. Ammar adalah pengasuh di asrama SMAN Modal Bangsa Arun. Tanggung jawab itu diamanatkan pada tahun 2021, dan saat ini bisa lebih kurang Ustad Ammar sudah mengabdi selama satu tahun.
“Saya menjadi pengasuh di sini setelah saya keluar dari menjadi pengasuh di Dayah Nudi (Aceh Utara). Saat saya di sana, saya mengasuh anak SMP, tapi di sini adalah SMA,†ungkapnya.
Hal yang khas dari Ust. Ammar adalah klakson di pagi hari, saat waktu subuh menyingsing dia akan mengendarai sepeda motor hitamnya dan menekan klakson di pagi hari untuk membangunkan para siswa. Jika dianggap perlu, Ust. Ammar masuk ke rumah-rumah sampai mereka benar benar terbangun dari tidurnya lalu shalat Subuh di musolla. Ust. Ammar tidak ingin para siswanya masbuk salat Subuh, karena menurut Ust. Ammar, salah satu hal yang dapat membuat sukses adalah tepat waktu beribadah kepada Allah SWT.
Ust. Ammar adalah sosok yang peduli, meski kepedulian itu tidak serta mendapat balasan kepedulian juga. “Jika ada yang menganggap saya kasih kulit diminta daging, atau saya beri hati diminta jantung, saya tidak terlalu mempedulikan hal seperti itu. Saya hanya ingin para anak asuh saya menjadi orang yang disiplin dan jika suatu saat saya bertemu dengan mereka dan mereka berhasil, bagi saya itu sudah cukup,†ungkapnya saat diminta tanggapan tentang berbagai masalah selama menjalankan tugasnya.
Ide untuk menggunakan klakson didapat saat dirinya sedang sakit. Dalam keadaan kurang sehat, Ust. Ammar mengendarai sepeda motornya dan mulai membunyikan klakson. Mendengar klakson, mereka yang tadinya lelap jadi terkejut dan segera bangun untuk bersiap ke musolla.
Selain untuk sholat Subuh, tujuan dibangunkan siswa adalah supaya nantinya tidak terlambat ke sekolah. Menurutnya, setelah sholat banyak persiapan yang bisa dilakukan sehingga tidak terlambat. Biasanya, nanti pada pukul 07.00 dirinya mengumumkan melalui pengeras suara agar siswa segera berangkat ke sekolah.
Jika dalam keadaan berhalangan menjalankan tugas, biasanya dibantu juga oleh istrinya, yang biasa disapa Bu Linda oleh para siswa. Tugas yang dijalankannya antara lain adalah mencatat siswa yang tidak sholat Subuh berjamaah dan masalah perizinan siswa.
“Bagi saya, mendidik anak-anak yang sudah remaja ada dinamikanya sendiri, butuh terus proses dan juga belajar, terutama juga bagi saya supaya bisa lebih memahami mereka,†jawabnya saat ditanya tentang suka duka selama menjalankan tugas di sini.
Menurut Ust. Ammar, para siswa adalah subjek dengan berbagai watak dan tingkah laku yang berbeda satu sama lain, sehingga masalah memang tak pernah habis. Namun demikian, dirinya melanjutkan, nasihat dan bimbingan harus terus diberikan. “Kalaulah belum berubah hari ini, mudah-mudahan ada nasihat yang tersimpan dan teringat nanti hingga bisa berubah di masa depan,†pungkasnya. [TDA/MAR/HAR]