SMANMBA.SCH.ID - Banjir besar melanda berbagai wilayah di Aceh pada 26 November 2025. Bencana ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga menyebabkan kerusakan infrastruktur serius, mulai dari rumah warga yang terendam, jalan penghubung rusak, hingga sejumlah jembatan putus. Kondisi tersebut berdampak langsung pada mobilitas masyarakat, termasuk akses menuju daerah asal para pelajar.
Sebagai sekolah berasrama dengan siswa yang berasal dari berbagai daerah, SMA Negeri Modal Bangsa Arun merespons situasi ini dengan langkah cepat dan terukur. Memasuki masa liburan sekolah serta mempertimbangkan aspek keamanan dan keselamatan siswa, manajemen sekolah memutuskan untuk melakukan pengantaran khusus bagi siswa yang berasal dari wilayah terdampak banjir, khususnya Takengon dan Bener Meriah.
Pengantaran dilaksanakan pada Kamis, 18 Desember 2025, dengan melibatkan 110 siswa yang terdiri dari 73 siswi dan 37 siswa. Rombongan didampingi oleh sejumlah guru serta pengasuh asrama. Untuk mendukung kelancaran perjalanan di medan yang terdampak banjir dan longsor, pengantaran menggunakan satu unit dump truk yang difasilitasi sekolah dan dua unit truk Reo, difasilitasi oleh Danrem Aceh Utara.
Titik kumpul ditetapkan di Pos Kesehatan TNI yang juga berfungsi sebagai pos penjemputan. Sejumlah orang tua telah menunggu di lokasi tersebut. Pihak sekolah menegaskan kepada seluruh siswa agar tetap berjalan kaki secara berombongan tanpa meninggalkan kelompok hingga tiba di Buntul, guna menghindari risiko di jalur yang masih rawan.
Sementara itu, untuk wilayah Buntul, titik kumpul dipusatkan di Masjid Gelampang Wih Tenang Uken (Buntul Kemumu). Orang tua/wali diharapkan dapat berkumpul di lokasi tersebut mulai pukul 10.00 WIB. Bagi orang tua yang tidak memungkinkan menjemput pada waktu yang ditentukan, penjemputan juga dapat dilakukan di salah satu masjid yang juga merupakan titik aman.
Selama perjalanan, setiap siswa-siswi dibekali makan siang berupa nasi dari asrama. Selain itu, seluruh anggota rombongan mengenakan pita putih di lengan kanan sebagai penanda khusus agar rombongan tetap teridentifikasi dan tidak terpisah.
Pihak sekolah menekankan bahwa kepulangan ini tidak sekadar perjalanan pulang, melainkan juga dirancang sebagai pengalaman pembelajaran kontekstual. Melalui perjalanan yang menyerupai kegiatan hiking ini, siswa diajak untuk memahami secara langsung tentang alam, serta belajar dari peristiwa banjir dan longsor sebagai bagian dari pendidikan karakter, kepedulian lingkungan, dan ketangguhan menghadapi bencana.
Langkah ini menjadi wujud tanggung jawab dan kepedulian SMA Negeri Modal Bangsa Arun terhadap keselamatan peserta didik, sekaligus menegaskan peran institusi pendidikan dalam membangun kesadaran kebencanaan dan nilai kemanusiaan di tengah situasi darurat.